Kisah Dakwah Ustad Fadlan Garamatan Islamkan Papua Ketika Selesai Kuliah dan Kembali ke Papua

Ustad Fadlan Mengisi Kajian Spesial di Masjid Al-Mukhlisin Bengkulu 

Selesai kuliah di Makassar, Ustad Fadlan pulang ke Irian dan langsung jadi PNS (Pegawai Nabi SAW). Pekerjaan pertama Ustad Fadlan adalah berdakwah. Ustad Fadlan ingin bertemu dengan seorang pendeta yang bernama Alfonso. Kenapa Ustad Fadlan harus ketemu beliau? Karena pendeta ini sering memberikan ancaman kepada Ustad Fadlan karena ustad Fadlan telah berhasil mengislamkan masyarakat Papua.  Beliau juga menggunakan kependetaannya agar Ustad Fadlan segera di usir dari Jayapura. 

Setelah Ustad Fadlan selesai shalat subuh, Ustad Fadlan ingin bersilaturahmi dengan pendeta tersebut. Ustad Fadlan pergi jalan kaki dari masjid kerumah pendeta tersebut kurang lebih 200 meter. Dalam perjalanan menuju kerumah pendeta tersebut, Ustad Fadlan melihat beliau sedang lari pagi disekitar rumahnya.  Ustad Fadlan tunduk dan mempercepat langkah menuju kerumah pendeta tersebut agar bisa bertemu dengan pendeta. Pendeta yang melihat ustad Fadlan tersebut segera langsung menuju rumahnya, pintu pagar di kasih rapat, masuk kedalam rumah, dan pintu rumah langsung ditutup. Ustad Fadlan buka pintu pagar, masuk ke dalam dan Ustad Fadlan mengetuk pintu rumah pendeta tersebut.

Ustad Fadlan : Selamat Pagi
Keluar dari dalam istri pendeta
Istri Pendeta : Pagi, ada apa?
Ustad Fadlan : Ibu, saya mau ketemu abang pendeta
Istri pendeta langsung menjawab 
Istri Pendeta : Mohon maaf, bapak pendeta tidak ada rumah

Dalam hati Ustad Fadlan berkata, itu tadi yang masuk kedalam rumah siapa?Ustad Fadlan tau bahwa istri pendeta berbohong. Kemudian Ustad Fadlan pulang. Besok pagi Ustad Fadlan datang lagi

Ustad Fadlan : Selamat Pagi
Kemudian anak pendeta yang keluar 
Anak Pendeta : Pagi, mohon maaf bapak tidak dirumah
Ustad Fadlan pulang. Hari ketiga Ustad Fadlan datang lagi
Ustad Fadlan : Selamat Pagi

Kemudian istri dan anak pendeta yang keluar. Mereka mengatakan, “ Maaf, bapak tidak ada dirumah”.

Ustad Fadlan pulang. Hari ke empat Ustad Fadlan datang lagi kerumah pendeta. Namun, masih saja istri pendeta mengatakan bahwa pendeta tidak ada dirumah. Sampai 1 bulan penuh Ustad Fadlan datang kerumah pendeta tersebut. Namun, istri dan anak pendeta masih saja mengatakan bahwa pendeta tidak ada dirumah. 

Dibulan ke 2 dari hari pertama, kedua, ketiga, keempat setiap pagi Ustad Fadlan datang kerumah pendeta dan mendapatkan jawaban yang sama dari anak dan istri pendeta bahwa pendeta tidak ada dirumah. Hingga sampai bulan ke 2 dihari ke 15, belum tiba didepan rumah, anak dan istri pendeta sudah menunggu didepan rumah. Begitu Ustad Fadlan menyapa selamat pagi kepada anak dan istri pendeta, anak dan istri pendeta tersebut berkata, “ Anda ini tidak bosan datang kerumah ini, tiap pagi datang kerumah, apakah tidak ada pekerjaan lain  selain datang kesini tiap pagi dalam hidup Anda. 

Ustad Fadlan pun pulang. Besok paginya hari ke 16, Ustad Fadlan tetap datang kerumah pendeta itu dan mengucapkan selamat pagi. Istri pendeta mengucapkan, “kamu lagi”. Kemudian Ustad Fadlan pulang.  Besok pagi setiap pagi sampai 2 bulan penuh Ustad Fadlan mengetuk rumah pendeta itu, namun mendapatkan anak dan istri pendeta tersebut tidak ada dirumah. Bulan ke tiga hari pertama, Ustad Fadlan tetap saja datang kerumah pendeta dan mengucapkan selamat pagi. Istri pendeta keluar rumah dan mengatakan pendeta tidak ada dirumah. 

Hari ke dua bulan ketiga, anak pendeta tetap mengatakan pendeta tidak ada dirumah. Sampai hari ketiga bulan ketiga, Ustad Fadlan datang kerumah pendeta dan mengucapkan selamat pagi. Anak perempuan pendeta keluar rumah dan mengatakan kepada Ustad Fadlan, “Selamat pagi pak Fadlan, mohon maaf, bapak tadi malam kecapek an, kelelahan, sehingga kami bawa kerumah sakit.” 

Kemudian Ustad Fadlan tidak langsung pulang, namun dari rumah pendeta, Ustad Fadlan langsung menuju kerumah sakit untuk mengetahui keadaan pendeta. Sampai dirumah sakit, Ustad Fadlan menanyakan informasi mengenai pendeta tersebut pada bagian informasi ruangan. Ustad Fadlan juga menanyakan di ruangan berapa pendeta tersebut dirawat. Mereka bagian informasi mengatakan bahwa pendeta tersebut berada diruangan 48. Ustad Fadlan tidak langsung ke kamar itu, namun Ustad Fadlan keluar rumah sakit dan membeli buah buahan. Buah buahan tersebut dibungkus menjadi parcel untuk di bawa ke keruangan 48. Ustad Fadlan kemudian ke kamar no 48 dan mengetuknya. 

Ustad Fadlan : Selamat Pagi
Karena istri pendeta tidak tau kalau Ustad Fadlan yang datang, istri pendeta tersebut menjawab salam Ustad Fadlan.
Istri Pendeta : Selamat pagi, silahkan masuk.

Ustad Fadlan pun langsung buka pintu pelan pelan. Ustad Fadlan angkat parcel dan menutup wajahnya dengan parcel tersebut. Setelah itu, istri pendeta melihat Ustad Fadlan. Ustad Fadlan segera memberi salam lagi “ Selamat Pagi Bunda”. Saya mendengar informasi bahwa pendeta sakit dan kemudian saya membawa parcel buah buahan untuk beliau. Nanti jika beliau sadar, tolong sampaikan salam saya.”

Ustad Fadlan menyerahkan parcel tersebut dan segera keluar. Namun, tiba-tiba pendeta mengatakan, “Selamat Pagi Pak Fadlan”.

Mendengar ucapan pendeta tersebut, ustad Fadlan mendekati tempat tidur pendeta dan tidak jadi keluar. 

Ustad Fadlan : Hari ini sungguh luar biasa abang, saya bisa bertemu dengan abang. Dari 3 bulan yang lalu saya kerumah abang, namun tidak bertemu juga dengan abang. Istri dan anak abang selama 3 bulan berbohong kepada saya. Padahal abang ada di rumah. Abang selalu memberikan nasihat tentang cinta kasih, tapi mengapa abang mengajarkan anak dan istri abang berhari hari untuk berbohong. Jika hari ini, abang pendeta tidak masuk rumah sakit, mau berapa kali anak dan istri abang mengatakan abang tidak ada dirumah. Selama 1 tahun pun saya akan datang kerumah abang.

Setelah memberikan penjelasan tersebut, Ustad Fadlan pulang.

5 hari kemudian, pendeta sembuh dan pulang kerumah. Hari ke 6 nya, Ustad Fadlan diundang untuk menjadi tamu pertama datang kerumah pendeta. Seperti biasa Ustad Fadlan mengucapkan salam Selamat Pagi. Kemudian pendeta bersama anak istrinya membukakan pintu dan mempersilahkan Ustad Fadlan masuk ke dalam rumahnya. Disaat itulah Ustad Fadlan mulai menceritakan betapa indahnya Islam bagi penduduk alam semesta. Ustad Fadlan menjelaskan dari jam 10 pagi sampai jam 12 siang. Setelah jam 12 siang Ustad Fadlan pamit pulang. Pendeta tersebut mengantarkan Ustad Fadlan sampai ke depan pintu pagar dan beliau mengatakan “ Usahakan besok datang lebih pagi lagi kerumah ini Pak Fadlan”. 

Esok paginya Ustad Fadlan datang lagi kerumah pendeta dari jam 07.30 sampai Zuhur. Setelah selesai shalat Zuhur, Ustad Fadlan melanjutkan dakwah kepada pendeta sampai Ashar. Dakwah tersebut Ustad Fadlan lakukan selama 5 hari berturut turut. Dan Subhanallah, pendeta beserta anak istrinya menyatakan hijrah, mengucapkan 2 kalimat syahadat. Disaat itulah Ustad Fadlan bersujud dan menangis kepada Allah. Ustad Fadlan berkata didalam hati, “Seandainya jika saya tidak bersabar melakukan perkara dakwah ini, keluarga ini tidak akan menyebut nama Allah dan Rasulnya. Seandainya jika saya angkuh pada agama ini, ketika saya diusir dari rumah ini, saya tidak akan datang lagi kerumah ini. Terima kasih ya Allah, Engkau telah memberi hidayah kepada pendeta beserta anak dan istrinya”.

Semenjak kejadian tersebut, Ustad Fadlan memindahkan mereka ke rumah milik Ustad Fadlan yang ukurannya lumayan besar agar Ustad Fadlan mudah mengajarkan mereka untuk baca Al Quran dan dan menuntun mereka untuk shalat 5 waktu. Selain itu, Ustad Fadlan juga mengubah nama pendeta yang sudah masuk Islam tersebut menjadi Abu Sofian. Begitu hari Jumat, Abu Sofian dengan anak laki lakinya sudah mulai shalat dimasjid.  Dihari sabtunya, Ustad Fadlan mulai memperkenalkan Abu Sofian dan keluarganya kepada jamaah masjid.  

Di hari minggu, ternyata orang orang digereja menunggu Abu Sofian dari pagi sampai siang. Namun, tidak mungkin Abu Sofian datang lagi ke gereja. Akhirnya, dengan kejadian dan informasi bahwa pendeta telah masuk Islam, masyarakat ribut dan menangkap Ustad Fadlan kemudian memasukkan Ustad Fadlan ke dalam penjara selama 3 bulan. Ustad Fadlan mengucapkan Alhamdulillah meskipun beliau masuk dalam penjara. 

Setelah dipenjara selama 3 bulan, Ustad Fadlan keluar dari penjara dan melanjutkan dakwahnya. Ustad Fadlan berdakwah ke kampung dan ingin bertemu dengan kepala suku. Ternyata orang kampung tersebut tau bahwa Fadlan akan datang. Jika Ustad Fadlan datang ke kampung ini, maka dia harus dihukum. 

Setiba Ustad Fadlan didepan rumah kepala Suku, kepala Suku ternyata sudah berada dibelakang pintu dengan tombaknya. Kemudian kepala suku melempar tombak kepada Ustad Fadlan dan mengenai betis kaki kiri Ustad Fadlan dan berdarah. Teman-teman dai kemudian melakukan perlawanan. Namun, Ustad Fadlan melarang dan mengatakan, “ Hei, kita kesini bukan berperang, kita kesini berdakwah. Luka dibetis ini adalah konsekuensinya berdakwah. Rasulullah Muhammad SAW sering mendapatkan luka, dilempar sampai berdarah ketika melakukan dakwah, namun Nabi tidak pernah membalas, tapi mendoakan mereka. Tugas kalian  tolong lepaskan tombak di betis saya dan membawa saya kerumah sakit”.

Ustad Fadlan pun tidur dirumah sakit selama 3 bulan. Setelah sembuh, beliau mengatakan kepada teman teman dai, “tidak ada alasan lagi kecuali kita kembali ke kampung tersebut”.

Teman teman dai protes dan mengatakan, “ Ustad sudah terkena tombak disana, untuk apa kita kembali kesana lagi? “
Ustad Fadlan pun menjawab, “ Jangan bangun kebencian dan permusuhan dengan orang, kita sedang berdakwah. 

Ustad Fadlan dan teman teman dai datang lagi ke kampung tersebut, begitu mereka datang, Kepala suku yang menombak betis kaki kiri Ustad Fadlan 3 bulan yang lalu terserang sakit malaria. Kepala suku tersebut tidak punya uang dan tidak punya kendaraan untuk kerumah sakit. Merekalah satu satunya kendaraan yang ada disana. 

Ustad Fadlan turun dari mobil dan menuju rumah kepala suku. Berjumpa dengan anak tertua kepala suku.
Ustad Fadlan : Ada bapak kepala suku?
Anak tertua kepala suku : Ada, tapi bapak sedang terserang sakit malaria 2 minggu yang lalu. Mau membawa kerumah sakit, kami tidak punya uang. Kami juga tidak punya mobil.
Ustad Fadlan : Baiklah, kami datang untuk membawa kepala suku kerumah sakit, untuk biaya kami yang tanggung.
Anak tertua kepala suku : Tapi abang sudah ditombak oleh bapak 3 bulan yang lalu
Ustad Fadlan : Itu urusan lain, urusan kita adalah menyelamatkan kepala suku

Anak tertua kepala suku bicara kepada ibunya dan akhirnya mereka sepakat kepala suku untuk dibawa kerumah sakit. Selama 2 minggu kepala suku dirumah sakit dan kemudian kepala suku sembuh. Ustad Fadlan beserta teman teman dai mengantar pulang kepala suku ke rumahnya. 

Satu minggu kemudian , Ustad Fadlan dan dai datang lagi berdakwah ke kampungnya kepala suku. Subhanallah,baru 3 hari berdakwah, kepala suku beserta istri dan 13 anaknya, dan 15 kepala keluarga dikampung tersebut menyatakan hijrah mengucapkan 2 kalimat syahadat. Dengan kejadian tersebut, ributlah kota Jayapura. Ustad Fadlan ditangkap dan dimasukkan ke penjara selama 6 bulan. Setelah 6 bulan dipenjara, ustad Fadlan keluar dan melanjutkan dakwah lagi. Sebanyak 34 keluarga hijrah masuk Islam. Dengan kejadian tersebut, ustad Fadlan dipenjara lagi selama 9 bulan. Setelah 9 bulan dipenjara, ustad Fadlan keluar. Orang yang biasa menangkap ustad Fadalan selama 3 bulan, 6 bulan, dan 9 bulan membuka gembok penjara dan mengatakan, “ Yang masuk penjara ini tidak ada yang lain, kecuali Anda”.

Ustad Fadlan : Saya bukan maling, saya bukan pembunuh, saya bukan pemberontak, saya bukan penjahat, saya hanya ingin mencerdaskan negara bangsa ini agar mengikuti Allah dan Rasulnya. Kalo abang tidak suka silahkan. Tapi saya akan kasih tau abang, abang akan diangkat oleh Allah dan disiksa Allah karena abang salah menangkap orang.

Bahasa ustad Fadlan ternyata membuat orang yang menangkap ustad Fadlan ketakutan. Orang yang menangkap Ustad Fadlan mengatakan, “ Jangan kau kasih takut takut saya!”

Kemudian, Apa yang terjadi? 

Ternyata orang yang menangkap ustad Fadlan tidak membawa ke rumah Ustad Fadlan langsung, namun dia membawa ustad Fadlan ke rumahnya. Ketika dirumahnya, dia suruh istri dan 5 anaknya bersama dia duduk diruang tamu. Dia menyuruh ustad Fadlan menceritakan Islam kepada mereka. Ustad mulai berdakwah dan menceritakan Islam kepada mereka. Setelah 8 jam kemudian, dia beserta istri dan kelima anaknya hijrah mengucapkan 2 kalimat syahadat.

Ustad Fadlan berpikir bahwa tidak ada pekerjaan yang paling bergengsi didunia ini kecuali berdakwah. Seperti Rasul yang ketika berdakwah pasti dimaki, dilempar, ditombak, dipenjara, dipanah, tetapi Allah mengganti dengan hidayah yang cepat. 

Ustad Fadlan juga berhasil mengIslamkan 3712 orang di Papua. Masih banyak kisah perjalanan dakwah lainnya yang dilakukan oleh ustad Fadlan. Namun, untuk saat ini hanya itu saja yang bisa disampaikan. Terima kasih sudah membaca. Semoga ini juga memberikan motivasi bagi kita agar kita juga bisa berdakwah kepada siapapun meski dimulai dari yang paling kecil dan sederhana.

Sumber : Kisah langsung dari Ustad Fadlan Garamatan ketika mengisi kajian spesial di Masjid Al-Mukhlisin, Nusa Indah Bengkulu pada tanggal 19 Januari 2019, Pukul 04.30- selesai.

0 Response to "Kisah Dakwah Ustad Fadlan Garamatan Islamkan Papua Ketika Selesai Kuliah dan Kembali ke Papua"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel