Kisah Dakwah Ustad Fadlan Garamatan Di Perantauan

Kajian Spesial Ustad Fadlan Di Masjid Mukhlisin Bengkulu 

Ustad Fadlan Garamatan merupakan ustad dari Fak Fak, Papua. Ustad ini dikenal dengan ustad sabun. Tahun 1978 Ustad Fadlan hijrah dari kampungnya di Fak Fak ke Makassar untuk melanjutkan pendidikan. Waktu itu rambut Ustad Fadlan kayak pohon beringin. Naik kapal laut dari Fak Fak, bukan naik kapal pelni tapi kapal barang. Begitu semua naik kapal, kapal berlayar meninggalkan pelabuhan, jarak sekitar 1000 meter pemukiman dari kapal. Karena air di kapal terbatas, maka setiap penumpang di kapal ini hanya bisa mandi 1 kali saja. Perjalanan dari Fak Fak ke Makassar 5 hari 5 malam. Ustad Fadlan sudah dekil, kribo, hitam, ditambah gak mandi selama perjalanan. Bisa dibayangkan kan bentuk Ustad Fadlan saat itu.

5 hari kemudian, Ustad Fadlan sampai di pelabuhan Makassar. Disana ustad bertemu dengan orang-orang di Pelabuhan Makassar dan menyapa mereka.

Ustad Fadlan : Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

Namun tidak ada satupun yang membalas salam Ustad Fadlan. Sebagian orang di Pelabuhan mengatakan, “masa orang Islam warna kulitnya hitam, dekil, rambut kayak pohon beringin begini”. 

Dalam hati Ustad Fadlan berkata, “tidak apa apa, mereka hanya belum mengenal saya saja”.

Dari pelabuhan, ustad Fadlan menuju ketempat kos yang sudah disiapkan teman-teman Ustad Fadlan. Sampai ditempat kos, paginya ustad menuju masjid untuk shalat subuh. Di masjid, ustad bertemu dengan ketua DKN. Ketua DKN tersebut bertanya kepada ustad karena melihat keadaan ustad saat itu yang hitam, dekil, rambut kribo.

Ketua DKN : Hei,kamu asalnya dari mana?
Ustad Fadlan : Bapak, saya dari Irian Jaya.

Begitu ketua DKN mendengarkan penjelasan Ustad Fadlan, ketua DKN tersebut mempercepat langkah dan meninggalkan Ustad Fadlan. Setelah dari masjid tersebut, ketua DKN menyuruh pemuda pemuda berbadan kekar untuk mengawasi Ustad Fadlan. Ustad Fadlan tidak tau. Ketika Ustad Fadlan ambil wudhu, pemuda pemuda suruhan Ketua DKN tersebut berkerumunan mendekati Ustad Fadlan, bukan untuk ambil air wudhu, namun mengawasi Ustad Fadlan. Ustad Fadlan pun tidak tau kalo dia diawasi. Ustad segera ke dalam masjid dan shalat. Ternyata pemuda tersebut masih berdiri mengawasi Ustad Fadlan. Setelah selesai shalat, Ustad Fadlan melihat pemuda pemuda berbadan kekar tersebut berada di sebelah kanan dan kiri Ustad Fadlan.

Keesokan harinya, Ustad Fadlan shalat ke masjid lagi. Tapi, dalam keadaan yang sama. Pemuda pemuda tersebut masih mengawasi Ustad Fadlan. Setiap hari mereka mengawasi. Shalat magrib diawasi, shalat subuh diawasi, shalat isya diawasi. Di suatu hari, setelah selesai shalat Isya, ustad Fadlan pulang ke kos. Ternyata, Ketua DKN menyuruh Pak RT datang ke kos Ustad Fadlan. 

Pak RT pun datang ke kos ustad Fadlan dan mengetuk pintu kosnya
Pak RT : Assalamualaikum
Ustad Fadlan : Waalaikumsalam, 
Pak RT : Saya ketua RT disini
Ustad Fadlan : Mohon Maaf pak, saya belum melapor
Pak RT : Oh, bukan masalah itu, saya disuruh Ketua DKN  datang kesini karena warga disini semua resah dan gelisan atas kehadiran Anda disini. Supaya Anda ini benar benar muslim, Saya disuruh bawa Al quran, tolong Anda baca. Setelah Anda baca, dan melihat kalau Anda bisa baca Al Quran, maka saya akan memberitahukan kepada masyarakat bahwa Anda muslim.

Mendengarkan penjelasan tersebut, Ustad Fadlan bertanya kepada Pak RT.

Ustad Fadlan : Mohon maaf Pak RT, sebelum saya membaca Al Quran, saya minta tolong pak RT untuk membaca Al Quran terlebih dahulu.

Dan ternyata, Pak RT tidak bisa baca Al Quran. Dalam hati Ustad Fadlan berkata, “Tidak bisa baca Al Quran bagaimana mau menguji saya disitu. Jika seandainya Ustad Fadlan salah salah baca Al Quran, bisa saja Pak RT sangka benar”.

Kemudian Ustad Fadlan mengatakan, “Tetapi pak RT, jika saya membaca Al Quran disini, saksinya tidak kuat Pak RT karena hanya ada saya dengan Pak RT. Tolong bilang kepada Ketua DKN, besok subuh saya akan memimpin shalat subuh”.

Begitu pak RT keluar dan meninggalkan kosan Ustad Fadlan, Ustad Fadlan segera mencukur/ memotong rambutnya. Besok subuhnya, Ustad Fadlan memakai  sarung dan memakai baju koko untuk shalat ke masjid. Semenjak saat itu, Ustad Fadlan sudah tidak diawasi dan dicurigai lagi oleh Ketua DKN bahkan masyarakat disana tidak resah dan gelisah lagi dengan kehadiran Ustad Fadlan. 

Selama 1 tahun, Ustad Fadlan tidak khawatir, karena setiap hari Ustad Fadlan dikasih makan dan minuman. Ustad Fadlan tidak perlu beli makan dan minuman. Ketika Ustad Fadlan masuk kerumah warga disana, Ustad Fadlan dikasih makan. Masuk kerumah warga lain, Ustad Fadlan juga dikasih makan.

Kisah dakwah Ustad Fadlan selanjutnya pada artikel : Kisah Dakwah Ustad Fadlan Garamatan Ketika Kuliah di Makassar

Sumber : Kisah ini diceritakan langsung dari Ustad Fadlan Garamatan ketika mengisi kajian spesial di Masjid Al-Mukhlisin, Nusa Indah Bengkulu pada tanggal 19 Januari 2019, Pukul 04.30- selesai.

0 Response to "Kisah Dakwah Ustad Fadlan Garamatan Di Perantauan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel