Bagaimana cara melatih anak mengendalikan amarah?



Dalam mendidik anak memang sulit bagi orang tua. Terkadang anak tidak dapat mengendalikan apa yang sedang dia lakukan. Misalnya jika anak menangis, marah, nakal, melawan kepada orangtua, dan lain sebagainya. Sebagai orang tua juga harus bisa mengatasi permasalahan tersebut dengan bijak. Karena apa? Apabila orangtua salah dalam memberikan pendidikan kepada anak, maka akan berdampak tidak baik pula untuk anak itu sendiri. Disini saya, akan membahas cara melatih anak untuk mengendalikan amarah.

Perlu diketahui bahwa anak yang sedang marah, otak emosionalnya lebih dominan dari pada otak logika. Anak akan meluapkan marahnya tanpa pikir panjang. Ketika anak marah, orangtua dapat menunjukkan empati, bukan justru orangtua ikutan marah kepada anak. Orangtua juga menunjukkan sikap tenang. Sikap tenang orang tua akan memberikan aura yang akan membuat anak secara tidak langsung terhadap marah atau emosionalnya perlahan lahan meredam. Setelah itu, orangtua menasehati dengan pelan dan dengan nada yang yang lembut. Menasehati anak pun juga tanpa menyalahkan sepenuhnya apa yang dilakukannya. Karena apabila orangtua menasehati seperti itu, maka emosional amarah anak bisa jadi akan meningkat kembali. Oleh karena itu, nasehatilah anak dengan tanpa membuat mereka sepenuhnya salah. Selain itu, orang tua juga harus memberi contoh pada anak tentang cara menghadapi amarah. Anak butuh waktu untuk memahami kesalahannya. Orang tua pun juga tak perlu memberi ceramah panjang kepada anak.

Ajarkan anak untuk mengungkapkan marah dengan benar bukan perilaku yang merusak. Ketika anak mengungkapkan marahnya dengan benar dan suasana sudah reda, puji perilakunya.

Contoh cara orangtua menguji anak seperti berikut.
“ Ibu perhatikan saat kakak marah pada adik tadi, kakak menggunakan kata-kata yang sopan dan lembut. Kakak pasti senang bisa melakukannya ya kan?” Ibu juga senang.”

Dengan memberi pujian seperti tersebut, maka secara tidak langsung tertanam dalam otak anak untuk terbiasa ketika marah tanpa merusak dan cepat meredam emosionalnya sendiri. Untuk anak yang lebih besar, kita dapat memberi pemahaman bahwa membiarkan dirimu meluapkan kemarahan berarti kamu kalah dengan setan karena sifat anak-anak tak mau kalah dari apapun.

Selain itu, orangtua dapat memberikan nasehat kepada anak. Sampaikan bahwa melampiaskan marah yang tidak tepat akan melukai  orang lain disekitarnya dan berdampak melukai diri sendiri dengan rasa sakit yang berlipat-lipat. Melampiaskan marah tanpa arah tidak akan mengurangi stress bahkan membuatnya lebih parah.

Bisa jadi anak berkata bahwa orang lain lah penyebab kemarahannya.
“Dia yang mulai duluan, Bu”

Beritahu anak bahwa hal ini berarti kemarahannya bersifat pelampiasan alias balas dendam. Melampiaskan marah bisa jadi jalan pintas menghilangkan stress, tapi setelah itu, justru perasaan jadi tidak nyaman.

“Aku tau, Bu, melampiaskan marah tu gak baik tapi aku kayak gak bisa nahan. “
Yup, memang perlu latihan untuk bisa mengelola marah.
Dengan demikian, anak akan terlatih untuk dapat mengendalikan emosi atau amarahnya sehingga dampak buruk tidak akan terjadi. 


8 Responses to "Bagaimana cara melatih anak mengendalikan amarah?"

  1. Masyaallah, bagus banget tulisannya mba, mengingatkan diri saya biar lebih sabar ngadepin anak-anak.
    Makasih sharingnya ya mba, good!

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama-sama mbak.. syukron ya mbak. :D
      masi bnyak belajar lagi nih

      Delete
  2. Wah bermanfaat bagi yang sudah jadi ortu lama atau ortu baru

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada ya pak ortu lama dan ortu baru.. hahaha..
      macam baju lama dan baju baru ajaa :DDD

      Delete
  3. Keren... tapi kayaknya bunda rada telat taunya karena anak-anak bunda sudah pada besar dan dulu bunda ngikutin alur aja deh moga2 anak2 bunda baca ni artikel

    ReplyDelete
    Replies
    1. syukron bunda..gak apa2 telat bunda, tapi bunda bisa berbagi ilmu dengan teman bunda lainnya :D

      Delete
  4. Belum punya anak, blum punya pasangan juga heheh... Tapi keren tips nya mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasiih, setidaknya untuk ilmu yang nantinya akan diterapkan kalo udah punya anak.. ya kan? haha

      Delete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel