09 January 2019

Mistis Cagar Budaya Makam Limbur Lama Kepahiang Bengkulu


Siang itu, hari sabtu pada tanggal 6 Februari 2019, saya bersama keluarga besar pulang ke kampung halaman di desa pagar agung, kepahiang. Desa pagar agung merupakan desa tempat tinggal nenek dan kakek kami. Memang sudah jauh hari orangtua saya merencanakannya untuk pulang kampung. Kami memang sudah jarang pulang kesana karena nenek dan kakek kami sudah tidak ada lagi. Kami pulang ke kampung halaman bertujuan untuk mengadakan sedekah atau doa bersama sebagai tanda rasa syukur keluarga besar kami. Sedekah bukan diadakan di desa pagar agung, namun di desa limbur lama, kepahiang. Kami adakan disana karena desa tersebut merupakan desa kelahirannya nenek dan kakek kami. Atau bisa juga dibilang disana merupakan tempat tinggal nya puyang kami (orangtua dari nenek dan kakek).
desa limbur lama, kepahiang 
Desa limbur lama merupakan sebuah desa yang terdapat di Kecamatan Bermani Ilir, Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu. Jarak dari desa pagar agung ke desa limbur lama dekat, sekitar 15 menit perjalanan apabila menggunakan mobil pribadi. Kami ke desa tersebut pada hari minggunya sekitar jam setengah 9 pagi. Setelah sampai disana, warga desa sana sudah datang. Mereka pun membantu memasak.

Kemudian ketika sampai disana, orang tua saya mengajak untuk ziarah ke makamnya puyang kami yang tidak jauh dari rumahnya peninggalan puyang kami. Letak makam tersebut tidak dipinggir jalan. Agak masuk kedalam. Hanya bisa dilewati motor karena itu jalan setapak dan dikelilingi tanaman kopi. 

Ibu dan paman saya naik motor karena ibu gak sanggup untuk jalan. Sedangkan saya, kakak saya yang pertama dan ayah saya jalan kaki menuju makam. Di pinggir jalan sebelum masuk jalan menuju makam, dekat parkir mobil, saya melihat ada papan yang berisi informasi mengenai cagar budaya makam limbur lama yang dilindungi pemerintah Kabupaten Kepahiang. 
Papan yang berisi informasi mengenai cagar budaya makam limbur lama

sekeliling makam limbur lama
makam limbur lama 
Setelah sampai disana, kita ziarah. Memang disana saya melihat ada sesajen. Yup,disini masih ada yang berbuat syirik. Kemudian saya melihat di dekat makam tersebut, ada tempat berbentuk lingkaran dan ditempat itu juga ada bekas sesajen. Saya bertanya kepada paman saya. 

Saya          :  Paman, itu tempat apa? 
Paman  : Itu adalah tempat orang jika punya niat. Misal niat jika ingin sukses, maka orang tersebut berniat dan berdoa agar bisa sukses.

Kemudian paman saya bercerita lagi bahwa tempat tersebut dulunya untuk orang yang akan berperang dan berniat apabila menang maka orang tersebut akan pulang dengan membawa darah.  Darah tersebut kemudian diletakkan ditempat tersebut.

Wah benar benar syirik ungkap saya dalam hati.
tempat untuk berdoa meminta sesesuatu 

Setelah ziarah selesai, kita pulang. Di perjalanan menuju pulang ke rumah didesa limbur lama, kami melihat ada sebuah batu besar sekali. Kata paman saya, nama batu itu adalah batu tebet. Batu tebet memiliki  ukuran yang memang sangat besar. Batu tersebut dulunya mengeluarkan bunyi seperti suara musik. Namun, sekarang batu tersebut tidak berbunyi lagi. Yup entah percaya atau tidak, ya itu hanya sebuah cerita di jaman dahulu.
Batu tebet
Batu tebet tersebut juga memiliki mitos. Jika seseorang yang masih lajang dapat menaiki batu tersebut sampai ke atasnya, maka seseorang yang lajang tersebut cepat dapat jodoh. Ya saya hanya mendengarkan saja mitos tersebut, saya hanya memfoto batu itu saja, tidak untuk menaikinya. Karena menurut saya jodoh itu sudah Allah tetapkan di Laul Mahfuz, jadi saya yakin saja pada atas ketetapan Allah. Tidak percaya yang lain.

Lalu ketika saya selesai memfoto batu tersebut, kami melanjutkan perjalanan. Setengah perjalanan, saya bertanya pada kakak saya.

Saya : kak, tadi saya melihat ada papan yang bertuliskan cagar budaya makam limbur lama didepan kita parkir mobil tadi. Nah cagar budaya makam itu yang mana? 
kakak saya : yah, makam cagar budaya itu yang kita ziarahi tadi. Adek tidak memfoto nya tadi? 
Saya : Tidak. Oh, makam itu merupakan cagar budaya makam limbur lama. Saya baru tau. 
Kakak : Gimana? Mau balik lagi kesana? 
Saya  : Iya, mau. Saya mau memfotokan makam tadi untuk dijadikan dokumentasi yang akan saya pasang ketika menulis di blog.


Nah, setelah itu saya dan kakak saya ke makam itu lagi. Saya menyuruh ibu, ayah dan paman saya untuk duluan ke mobil dan nungguin kami disana.

Saya dan kakak saya berjalan lagi menuju makam tadi. Sampai disana, kakak saya sudah duduk didekat kuburan dan meminta untuk difotoin. Sayapun terkejut  dia udah siap disana untuk di fotoin. Yasudah saya fotoin. Padahal niatnya saya hanya foto makamnya saja.
Cagar budaya makam limbur lama
Abis foto disana, saya dan kakak saya pulang. Ditengah perjalanan menuju ke mobil, tiba tiba kakak saya mengeluh dada sebelah kanannya sakit. Sakit sekali katanya. Kakak saya mengatakan dia baru pertama kali ini merasakan sakit didada sebelah kanan. Saya pun menyuruhnya untuk istirahat dulu. Namun kakak saya tetap untuk melanjutkan perjalanan. Sampe di mobil, ibu saya sudah menunggu. sedangkan ayah dan paman saya duluan balik ke rumah limbur lama dengan motor.

Di mobil, kakak saya masih mengeluh sakit. Dia tetap menyetir mobil walaupun masih sakit. Padahal saya menyarankan untuk istirahat dahulu. Sampai di dekat rumah limbur lama, kakak saya menyuruh saya memanggil paman saya yang lain. Namanya mayar.  Saya pun memanggil paman saya yang bernama mayar. Sedangkan ibu saya tetap di dalam mobil menemani kakak saya.

Saya dan paman mayar segera ke mobil. Paman saya gantian yang nyetir mobil dan kemudian menuju ke rumah paman saya mayar itu. Namun pas berhenti dan keluar mobil, kakak saya pingsan. Kakak saya kemudian diangkat ke rumah paman saya. Setelah pingsan, kakak saya sadar. Namun, tiba tiba kakak saya menangis. Saya dan yang lainnya heran. Terus setelah nangis, kakak saya berbicara tentang suatu hal.

Kakak saya mengatakan "Desa ini jangan lagi saling merajai, desa ini jangan ribut ribut, desa ini damailah."

Kakak saya berbicara dengan nada sedih. Ya, karena yang ngerasuki tubuh kakak saya mungkin merasa sedih dengan keadaan desa ini sekarang yang tidak baik.

Setelah berbicara seperti itu, kakak saya akhirnya sadar dan kembali seperti sedia kala. Dadanya tidak terasa sakit lagi. Dan kakak saya udah bisa ngobrol ngobrol seperti biasanya.

Setelah kejadian ini, saya dan keluarga saya kembali lagi kerumah peninggalan puyang kami dan mulai mengadakan sedekah dan doa bersama warga disana.

Sebuah kejadian yang ada cerita mistisnya tersebut memperingatkan kepada warga desa limbur lama untuk selalu berdampingan dengan keluarga dan juga dengan warga sekitar agar desa tersebut selalu damai.

Selain itu, dengan ikutnya saya ziarah kemakam limbur lama tersebut, telah memberikan sebuah informasi baru bagi saya bahwa Bengkulu, khususnya Kabupaten Kepahiang mempunyai cagar budaya, yaitu cagar budaya makam limbur lama yang dilindungi pemerintah Kabupaten Kepahiang. Menurut saya, banyak warga Bengkulu yang juga belum mengetahui cagar budaya ini. Saya berharap cagar budaya makam limbur lama tetap dilestarikan dan tidak disalah gunakan.

0 comments:

Post a Comment